• Address Jl. Ki Hajar Dewantara No. 115.
  • Email feb@ummetro.ac.id
  • Contact 081328393938
Jadwal Waktu Sholat Kota Metro Kamis, 28 Mei 2026
Subuh 04:40 Dzuhur 12:00 Ashar 15:21 Maghrib 17:55 Isya 19:08
PENMARU

Koordinasi Implementasi Pilar Ekonomi: FEB UM Metro Bersinergi Dorong Pemberdayaan UMKM di Kota Metro

FEB UM Metro — Upaya memperkuat pilar ekonomi masyarakat terus dilakukan melalui sinergi antar lembaga di Kota Metro. Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UM Metro menggelar kegiatan koordinasi implementasi pilar ekonomi dalam rangka pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bersama berbagai mitra strategis, yaitu Lazismu Kota Metro, Majelis Ekonomi Bisnis dan Pariwisata PDM Kota Metro, serta Majelis Ekonomi PDA Kota Metro.

Kegiatan koordinasi ini menjadi langkah awal dalam memperkuat pelaksanaan program pemberdayaan ekonomi berbasis kolaborasi yang melibatkan UMKM mitra di Kota Metro. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas usaha, penguatan manajemen bisnis, pemasaran digital, literasi keuangan, hingga pengembangan jaringan usaha bagi para pelaku UMKM.

Pihak Fakultas Ekonomi dan Bisnis UM Metro yang diwakili oleh Dekan Dr.E. Febriyanto, SE, MM. menegaskan bahwa keterlibatan perguruan tinggi dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang pengabdian kepada masyarakat. FEB UM Metro hadir tidak hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam mendukung penguatan ekonomi kerakyatan berbasis pemberdayaan.

Dalam koordinasi tersebut, seluruh pihak membahas teknis pelaksanaan program, pendampingan UMKM, pemetaan kebutuhan mitra usaha, hingga strategi keberlanjutan program agar mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sinergi lintas lembaga ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem usaha yang produktif, mandiri, dan berdaya saing.

Perwakilan Lazismu Kota Metro menyampaikan bahwa program pemberdayaan ekonomi menjadi salah satu fokus penting dalam membangun kemandirian masyarakat. Dukungan terhadap UMKM dinilai sangat strategis karena sektor tersebut menjadi penggerak utama ekonomi lokal dan mampu membuka peluang kerja baru.

Sementara itu, Majelis Ekonomi Bisnis dan Pariwisata PDM Kota Metro bersama Majelis Ekonomi PDA Kota Metro menyatakan komitmennya untuk terus mendukung kolaborasi program ekonomi umat melalui pendampingan dan penguatan jejaring usaha masyarakat.

Melalui kegiatan koordinasi ini, FEB UM Metro kembali menunjukkan komitmennya sebagai kampus yang aktif membangun kolaborasi dengan berbagai stakeholder dalam mendukung pengembangan ekonomi masyarakat. Program pemberdayaan UMKM ini diharapkan dapat menjadi model sinergi berkelanjutan antara perguruan tinggi, lembaga sosial, dan organisasi masyarakat dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif di Kota Metro.

UMKM di Kota Metro, Lampung pada umumnya memiliki potensi besar untuk berkembang karena didukung oleh aktivitas perdagangan, pendidikan, dan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Namun, dalam praktiknya masih terdapat berbagai kendala yang dihadapi pelaku UMKM dalam mengembangkan usahanya. Beberapa kendala utama yang sering ditemui yaitu:

  1. Keterbatasan Modal Usaha
    Banyak pelaku UMKM masih mengalami kesulitan memperoleh tambahan modal untuk pengembangan usaha. Sebagian besar usaha masih mengandalkan modal pribadi sehingga kapasitas produksi dan ekspansi usaha menjadi terbatas.
  2. Kurangnya Literasi Keuangan dan Manajemen Usaha
    Sebagian UMKM belum menerapkan pencatatan keuangan yang baik, sehingga sulit mengetahui keuntungan, arus kas, maupun perencanaan usaha jangka panjang. Manajemen usaha masih dilakukan secara sederhana dan tradisional.
  3. Pemasaran yang Masih Terbatas
    Banyak UMKM di Kota Metro masih bergantung pada pemasaran offline dan pelanggan sekitar. Pemanfaatan digital marketing, marketplace, dan media sosial belum optimal sehingga jangkauan pasar masih sempit.
  4. Kualitas dan Inovasi Produk
    Persaingan usaha menuntut produk yang berkualitas dan inovatif. Namun sebagian pelaku UMKM masih mengalami keterbatasan dalam pengemasan produk, branding, desain, hingga pengembangan varian produk baru.
  5. Akses Teknologi yang Belum Maksimal
    Transformasi digital menjadi tantangan tersendiri bagi UMKM. Tidak semua pelaku usaha memiliki kemampuan menggunakan teknologi digital untuk promosi, pencatatan keuangan, maupun transaksi online.
  6. Perizinan dan Legalitas Usaha
    Sebagian UMKM belum memiliki legalitas lengkap seperti NIB, sertifikasi halal, maupun izin edar produk. Padahal legalitas menjadi syarat penting untuk memperluas pasar dan menjalin kerja sama dengan pihak lain.
  7. Persaingan Usaha yang Semakin Ketat
    Pelaku UMKM menghadapi persaingan dari produk luar daerah maupun produk pabrikan yang memiliki harga lebih kompetitif dan pemasaran lebih kuat.
  8. Keterbatasan SDM dan Pendampingan
    Banyak UMKM masih membutuhkan pelatihan dan pendampingan berkelanjutan dalam bidang manajemen, pemasaran digital, inovasi produk, dan pengembangan usaha.
  9. Kesulitan Memperluas Jaringan Pasar
    UMKM sering mengalami hambatan dalam menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk akses ke retail modern, pengadaan pemerintah, maupun pasar luar daerah.
  10. Fluktuasi Harga Bahan Baku
    Kenaikan harga bahan baku dan biaya produksi sering mempengaruhi stabilitas usaha, terutama bagi UMKM makanan, kerajinan, dan perdagangan kecil.

Karena itu, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, lembaga zakat, organisasi ekonomi, dan komunitas bisnis sangat penting dalam mendukung pemberdayaan UMKM di Kota Metro. Pendampingan yang berkelanjutan, pelatihan digitalisasi, akses permodalan, dan penguatan jaringan usaha menjadi langkah strategis untuk meningkatkan daya saing UMKM di era ekonomi digital.