• Address Jl. Ki Hajar Dewantara No. 115.
  • Email feb@ummetro.ac.id
  • Contact 081328393938
Jadwal Waktu Sholat Kota Metro Kamis, 28 Mei 2026
Subuh 04:40 Dzuhur 12:00 Ashar 15:21 Maghrib 17:55 Isya 19:08
PENMARU

Menyembelih Ego Kapitalistik: Idhul Adha sebagai Jaring Pengaman Sosial Mandiri


Oleh: Ma'ruf Abidin  - Sekertaris PWM Lampung / Anggota BPH UM Metro

Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Adha dengan ritual yang konsisten: mengumandangkan takbir, melaksanakan salat bersama, dan menyembelih hewan kurban. Namun, di tengah impitan dinamika ekonomi global, fluktuasi harga pangan, dan bayang-bayang ketimpangan sosial yang kian melebar di tanah air, perayaan ini tidak boleh menyusut menjadi sekadar selebrasi ritualistik tahunan. Jika Idul Adha hanya dimaknai sebatas pemotongan hewan massal lalu membagikan dagingnya, kita telah kehilangan ruh spiritual dan transformatif dari ibadah agung ini.
Esensi sejati dari Idul Adha sebenarnya adalah sebuah ikhtiar radikal untuk menundukkan ego manusia. Sejarah mencatat bahwa peradaban spiritual yang kokoh dalam Islam tidak dibangun di atas fondasi kesombongan, melainkan di atas runtuhan ego kepemilikan. Nabi Ibrahim AS mengorbankan ego kebapakannya, Siti Hajar membuang ego ketergantungan pada makhluk di padang gersang, dan Nabi Ismail AS menyerahkan ego eksistensi hidupnya. Sinergi keteladanan ini membuktikan satu hal: kedekatan kepada Sang Pencipta dan kemaslahatan sesama hanya bisa dicapai ketika ego pribadi diletakkan di posisi paling bawah.

Akar Ketimpangan dan Ego Kepemilikan

Dalam konteks modern, musuh terbesar bangsa ini bukan lagi kemiskinan struktural an sich, melainkan watak egoisme kapitalistik yang bersemayam dalam dada individu. Akar dari ketimpangan sosial-ekonomi selalu bermuara pada keengganan manusia untuk berbagi, yang dipicu oleh ilusi kepemilikan mutlak atas harta. Kita sering kali terjebak dalam akumulasi modal yang berlebihan, memelihara sifat kikir, dan mengabaikan hak-hak kelompok rentan di sekitar kita. Di sinilah Idul Adha hadir sebagai alarm keras yang mengusik kenyamanan kaum berada.
Ketika seorang Muslim membeli dan menyembelih hewan kurban, ia secara simbolis sedang menyembelih "Ismail-Ismail" modernnya—yang bisa berwujud penimbunan kekayaan, keserakahan ekonomi, serta ego konsumerisme. Perintah kurban memaksa manusia untuk memotong rantai keakuan dan menyadari bahwa harta hanyalah titipan sosial. Pembagian daging kurban yang menyasar masyarakat miskin secara merata bukan sekadar aksi filantropi karitatif, melainkan sebuah kritik sosial yang menegaskan bahwa setiap manusia, tanpa memandang kelas sosial, berhak atas akses pangan dan nutrisi yang berkualitas.

Multiplier Effect bagi Ekonomi Akar Rumput

Jika diteropong dari kacamata ekonomi makro, Idul Adha bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah instrumen redistribusi kekayaan yang menciptakan efek domino (multiplier effect) yang luar biasa bagi sektor riil. Ibadah kurban adalah bentuk nyata dari perputaran uang (velocity of money) yang bergerak dari perkotaan menuju pedesaan, dari kelompok masyarakat kelas atas langsung menyentuh para pelaku ekonomi arus bawah.
Pertama, perayaan ini menghidupkan sektor peternakan lokal. Lonjakan permintaan komoditas sapi, kambing, dan domba menjelang paruh bulan Dzulhijjah menjadi momentum panen raya bagi para peternak skala kecil di daerah-daerah. Jutaan rupiah mengalir langsung ke kantong-kantong peternak rural, memberikan injeksi modal dan meningkatkan daya beli mereka.
Kedua, ada mata rantai logistik dan tenaga kerja musiman yang ikut terserap. Mulai dari penyedia jasa transportasi hewan, pedagang pakan, perajin tali, hingga penyedia jasa jagal dan distribusi. Perputaran uang yang bernilai triliunan rupiah dalam waktu singkat ini menjadi stimulus ekonomi domestik yang sangat tangguh di tengah kelesuan pasar. Idul Adha berhasil menggerakkan roda ekonomi tanpa perlu intervensi atau stimulus anggaran dari negara.

Menuju Jaminan Sosial Berkelanjutan

Kendati demikian, tantangan terbesar kita hari ini adalah bagaimana mengonversi dampak ekonomi Idul Adha agar tidak bersifat temporer atau habis dalam satu hari. Manajemen kurban nasional harus bertransformasi ke arah yang lebih produktif dan berkelanjutan. Surplus daging kurban di wilayah perkotaan yang padat sudah saatnya diredistribusikan ke wilayah pelosok, daerah tertinggal, wilayah pascabencana, atau kantong-kantong kemiskinan ekstrem yang sedang berjuang melawan stunting.
Inovasi teknologi pangan, seperti pengolahan daging kurban menjadi rendang atau kornet dalam kaleng, menjadi langkah strategis yang harus didukung. Dengan cara ini, kurban tidak lagi sekadar pemenuhan gizi sesaat pada hari tasyrik, melainkan menjelma sebagai cadangan logistik pangan nasional jangka panjang. Kurban berubah dari sekadar bantuan sosial darurat menjadi instrumen jaminan sosial mandiri berbasis komunitas.
Idul Adha telah memberikan cetak biru (blueprint) bahwa sistem ekonomi yang dipandu oleh nilai-nilai spiritualitas mampu berjalan efektif demi kemaslahatan publik. Namun, semua potensi besar itu akan menguap jika kita gagal menangkap substansinya. Mengalirkan darah hewan kurban harus dibarengi dengan mengalirnya kesombongan dan ego kapitalistik keluar dari dalam dada. Jika setelah Idul Adha kita kembali menjadi pribadi yang rakus, abai pada ketimpangan sekitar, dan memuja materi, maka kita mungkin baru sebatas menyembelih hewan ternak, tetapi belum menyembelih ego kita sendiri.